PENDIDIKAN NASIONALISTIK ATAU KAPITALISTIK

Posted: Februari 23, 2010 in Pendidikan
Tag:, ,

Aksi unjuk rasa yang digelar kelompok aktivis mahasiswa yang menghendaki pendidikan murah dengan menolak keberadaan perguruan tinggi BHMN sepertinya hanya akan menjadi riak –riak kecil yang tidak akan mempengaruhi para decision maker untuk tetap melanjutkan niat mengkomersialkan pendidikan kita. Meski Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 dengan tegas menyatakan anggaran pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), tak menyurutkan langkah sebagian perguruan tinggi untuk tetap berupaya menggali pendanaan dari kantong orang tua para mahasiswa. Inilah konsekuensi dari perguruan tinggi yang menjadi seperti perusahaan swasta dimana dana pendidikan mesti dicari sendiri tanpa subsidi. Apapaun motivasinya, tak seharusnya perguruan tinggi membebani para mahasiswa dengan biaya pendidikan yang terus meninggi.

Dalam beberapa kasus, perguruan tinggi tertentu berusaha untuk tetap menjaga citra “biaya murah” namun adakalanya apa yang dilakukan beberapa “oknum” pengajar (dosen) menuntut para mahassiwa mesti mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan status sarjana. Saya tidak mengidentikkan perilaku oknum pengajar ini sebagai pelicin atau suap. Disini terjadi semacam “simbiosis mutualisme” antara pengajar dan mahasiswa. Mahasiswa menghendaki proses studinya berjalan lancer. Sehingga kendala yang mereka hadapi ditembus dengan cara-cara “persuasif”. Bagi sebagian (kecil) pengajar, hal ini mendapatkan pemakluman, bahkan mungkin kesempatan untuk memperoleh sesuatu di luar ketentuan yang ada.

Ketika saya berbincang dengan beberapa mahasiswa, mereka menceritakan bagaimana sebenarnya perilaku dosen yang sepertinya mempersulit proses studi mereka, sehingga ditafsirkan dengan upaya “menyenangkan” dalam bentuk memenuhi keinginan si dosen. Beragam cara dilakukan para mahasiswa ini agar laporan penelitian yang mereka susun dapat segera mendapatkan pengesahan. Adakalanya, ketika terjadi kebuntuan meski segala cara dilakukan maka cara-cara intimidatif yang menjadi pilihan para mahasiswa.

Tulisan ini tidak disusun dalam rangka mendiskreditkan salah satu pihak, namun lebih sebagai awalan bagi semua pihak untuk mengevaluasi sistem pendidikan demi terwujudnya insan pendidikan yang bermoral, kritis, peka dan bertanggung jawab. Dalam satu satu bagian perbincangan saya dengan salah seorang mahasiswa yang menceritakan kondisi di kampusnya, dia mengatakan bahwa kampusnya yang dulu berpaham nasionalis kini telah bergeser menjadi kapitalis. Dia mengidentikkan nasionalis dengan kebersamaan atau solidaritas sebagai satu bangsa, dimana dalam praktek di kampus maka yang berlaku adalah memikirkan bersama bagaimana bangsa ini berdaya dengan mencetak kader-kader bangsa melalui pendidikan cinta tanah air, termasuk mengatasi kesulitan para mahasiswa dengan pemahaman bahwa kita adalah satu bangsa, tidak berpikir untuk kepentingan sendiri atau kelompok. Namun bagi si mahasiswa ini, nilai-nilai itu mulai pudar di kampusnya. Standar kampus internasional telah membawa kampusnya pada keharusan menyesuaikan diri dengan kampus internasional lain yang seolah dimaknai dengan biaya tinggi. Sehingga kesempatan memperoleh pendidikan hanya dimiliki oleh mereka yang berduit, atau punya akses untuk menembus birokrasi dalam kampus. Kalau kita mau membuka mata lebar-lebar, banyak potensi anak bangsa yang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati pendidikan sampai jenjang lebih tinggi dikarenakan persoalan ketiadaan atau kekurangmampuan membiayai pendidikan yang semakin tinggi nominalnya.

Sepertinya kita perlu redefinisi terhadap pendidikan berwatak nasionalis yang sepertinya jarang atau bahkan tidak pernah didiskusikan sebelum melangkah lebih lanjut sekaligus merombak sistem yang tidak berpihak kepada kepentingan bangsa. Nasionalisme bukan bicara uang, apalagi mengakumulasi kapital. Nasionalisme pendidikan lebih menekankan pada bagaimana bangsa Indonesia sejahtera, adil dan makmur dengan memberikan kesempatan sebesar-bearnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan tanpa harus dipersulit oleh biaya pendidikan. Republik ini lahir dengan salah satu tujuannya adalah mencerdaskan  kehidupan bangsa, dan itu melalui pendidikan.[fas]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s