MEGALOMANIA dan KEMANDEGAN PEMIKIRAN (1)

Posted: Desember 10, 2009 in Uncategorized

MEGALOMANIA & KEMANDEGAN PEMIKIRAN (1)

Apa itu Megalomania? Megalomania bukan sebuah kelompok penggemar film kartun megaloman, yang menampilkan tokoh utama sang pahlawan berambut api. Megalomania adalah istilah untuk perilaku historis yang dicirikan oleh obsesi atau keasyikan dengan kekayaan, kekuasaan, kepintaran, atau kemahakuasaan – umumnya sering disebut sebagai delusions dari kemegahan. Megalomania ditandai dengan obsesi untuk memperolehi ‘kebesaran’, terutama dalam bentuk popularitas, kekayaan materi, pengaruh sosial politik atau kekuasaan, atau lebih dari satu atau bahkan semua yang tersebut di atas.

Dapat disebutkan dengan kalimat lain, megalomania adalah suatu bentuk tingkah laku seseorang yang memiliki kecenderungan untuk mengagung-agungkan dirinya di hadapan orang lain. Seolah-olah dia adalah orang yang memiliki banyak “keistimewaan”.

Kecenderungan manipulatif demikian ini melanda individu-individu yang “mengaku dan diakui” sebagai aktifis (gerakan) Megalomania seolah menjadi jurus ampuh untuk membuat orang lain terkagum. Berdasarkan pengamatan awal di lapangan, saya menemukan tiga faktor yang menyebabkan seorang “aktifis” punya kecenderungan menjadi megalomania. Pertama, kebutuhan untuk diakui karena ketidakmampuan; Kedua, taktik mengelabui orang lain, untuk kepentingan yang tersembunyi; dan Ketiga, menyembunyikan ketidakmampuan dirnya. Ketiga faktor tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia berinteraksi selama ini.

Tulisan ini mencoba untuk memahami megalomania sebagai persoalan antara personality (karakater) dan lingkungan (organisasi). Keduanya tidak dapat dipisahkan, ada saling keterkaitan. Analoginya, seperti ketika memandang kemiskinan, bukan saja persoalan stuktural namun juga kultural. Kemiskinan dapat terjadi karena sistem yang membuat orang menjadi miskin (dimiskinkan lalu menjadi pemiskiman dan terjadilah kemiskinan). Pun juga, kemiskinan tidak lepas dari perilaku manusia yang malas, tidak mau berusaha, bergantung pada orang lain dan beragam alasan kultural lainnya.

Memahami megalomania, perlu didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang memicunya -karena ini yang lebih tampak di permukaan- sebelum memasuki pada tahap mengidentifikasi faktor penyebabnya. Saya berharap umpan kecil yang saya lempar ini akan ditarik dengan cara memberi masukan terhadap content. Tulisan ini dibuat karena kegelisahan atas kemandegan pemikiran di kalangan aktifis, yang sepertinya disibukkan menjadi megaloman di berbagai ruang yang sepertinya menyediakan (atau sengaja menciptakan sendiri) ruang bagi para megalomania. Kekuatiran selanjutnya, kemandegan pemikiran menyebabkan terjadi disorientasi gerakan. Karena tidak tahu kemana mesti melangkah dan bagaimana caranya untuk melangkah. Ini menjadi seperti teori spiral kekerasan. Satu kondisi menimbulkan terjadinya kekerasan. Dan keekrasan tersebut menimbulkan kekerasan yang lainnya, dan seterusnya.

Harapan lainnya, tulisan awal ini menjadi pemantik untuk munculnya tulisan lain dari siapapun untuk membedah dan kemudian kita bisa menata ulang agar gejala megalomania tidak menjadi trend dalam dunia pergerakan, yang berpotensi menghentikan dan mematikan lahirnya pemikiran kritis, konstruktif dan kreatif bagi bangkitnya Indonesia.[fas]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s