Perkembangan Kota Malang (1914-1940)*

Posted: November 27, 2009 in Arsitektur, Tata Ruang
Tag:, , , , ,

A. Perkembangan Penduduk dan Kota sebelum tahun 1914

Malang termasuk sebagai kota yang majemuk. Warganya terdiri atas: penduduk pribumi  setempat, penduduk Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), yang terdiri atas orang Cina dan Arab, serta Timur asing lainnya, serta penduduk Belanda sendiri yang memerintah. Masyarakat inilah yang membentuk pola permukiman di Malang sebelum tahun 1900.

Luas wilayah kota Malang pada th. 1914 adalah 1503 HA, sedangkan jumlah penduduknya adalah sebagai berikut (Staadgemeente Malang 1914-1939):

  1. Penduduk Pribumi : kurang lebih 40.000 jiwa
  2. Penduduk Eropa : kurang lebih 2.5000 jiwa
  3. Penduduk Timur Asing : kurang lebih 4.000 jiwa

Pola persebaran permukiman di Malang sampai tahun 1914 adalah sebagai berikut (Staadgemeente Malang 1914-1939):

  1. Daerah permukiman orang Eropa terletak disebelah Barat daya dari alonalon Taloon, Tongan, Sawahan dan sekitarnya, selain itu juga terdapat disekitar Kayoetangan,Oro-oro Dowo, Tjelaket, Klodjenlor dan Rampal
  2. Daerah permukiman orang Cina terdapat sebelah Tenggara dari alon-alon (sekitar Pasar Besar). Daerah orang Arab disekitar belakang mesjid.
  3. Daerah orang Pribumi kebanyakan menempati daerah kampung sebelah Selatan alon-alon, yaitu daerah kampung: Kabalen, Penanggungan, Djodipan, Talon dan Klodjenlor.
  4. Daerah Militer terletak disebelah Timur daerah Rampal.

B. Letak Geografis dan Bentuk Kota

Malang sendiri merupakan kota pedalaman. Letaknya yang cukup tinggi (450 m diatas permukaan laut) membuat Kota Malang menjadi satu-satunya kota yang berhawa dingin di Jawa Timur. Kawasan sekitar Malang yang merupakan daerah perkebunan, membuat kota ini menjadi sangat strategis dan tumbuh dengan cepat sebagai kota kedua yang terbesar di Jatim. dingin di Jatim. Malang juga dikelilingi oleh gunung-gunung seperti: Kawi, Arjuna, Semeru dan Tengger yang memberikan suatu pemandangan indah pada kotanya.

Malang juga dialiri oleh sungai. Masing-masing adalah sungai Berantas yang mengalir dari Utara ke Selatan, sungai Bango dan Amprung . Tapi yang berpengaruh besar terhadap bentuk dan kota Malang adalah sungai Brantas. Tidak seperti kota-kota Pesisir yang biasanya merupakan muara dari sungai-sungai besar seperti Surabaya, Semarang dan Batavia, sungai Brantas yang melewati kota Malang mempunyai lembah yang terjal sehingga sungai lebih berfungsi sebagai batas kota daripada urat nadi transportasi perdagangan di kota. Baru pada th.1920 an dengan dibentuknya pusat pemerintahan baru di daerah alon-alon bunder maka sungai Brantas yang dulunya berfungsi sebagai batas kota, berubah menjadi sungai yang membelah kota Malang.

Kota Malang sampai th. 1914, berbentuk konsentris dengan pola jejala (grid) dan pusatnya adalah alon-alon yang dihubungkan dengan jalan-jalan besar yang menuju ke luar kota. Hal ini merupakan modal awal yang baik untuk perkembangan lebih lanjut pada abad ke 20.

C. Keputusan Politik yang Berpengaruh Terhadap Perkembangan Kota Malang

Keputusan politik pertama yang berpengaruh langsung pada perkembangan Kota Malang adalah U.U. Gula (suikerwet) dan U.U. Agraria (agrarischewet) pada th. 1870. Undang-undang tersebut mengakibatkan adanya pembangunan secara besar-besaran oleh pihak pemerintah dan swasta untuk membangun prasarana baik di

dalam kota, jalan-jalan yang menghubungkan Malang sebagai kota pedalaman dengan kota-kota lainnya.

Keputusan politik yang lebih penting adalah adanya undang-undang desentralisasi pada th. 1903, yang disusul dengan keputusan desentralisasi pada th. 1905. Undang-undang tersebut pada pokoknya berisi wewenang yang lebih besar kepada kota-kota yang ditetapkan sebagai kotamadya (gemeente), untuk bisa berdiri sendiri. Malang ditetapkan sebagai Kotamadya (gemeente) pada tanggal 1 April 1914. Sejak saat itu Malang berkembang lebih pesat dari sebuah kota Kabupaten yang kecil menjadi sebuah Kotamadya terbesar kedua di Jatim.

D. Perkembangan Kota Setelah Tahun 1914 dan Rencana Karsten

Rencana perkembangan kota Malang merupakan salah satu perencanaan kota yang terbaik di Hindia Belanda waktu itu. Tentu saja hal ini tidak luput dari orang-orang yang ada dibalik rencana tersebut. Selain walikota Malang pertama yaitu: H.I. Bussemaker (1919-1929), juga tak bisa lepas dari peran perencana kota yang terkenal pada waktu itu yaitu Ir. Herman Thomas Karsten.

Pada bulan Agustus 1929, Walikota Malang meminta secara resmi kepada Ir. Herman Thomas Karsten menjadi ”Adviseur” (penasehat) untuk perluasan dan perkembangan kota Malang. Tugas utamanya adalah memperbaiki dan mengembangkan ”geraamteplan” kota Malang yang dibuat oleh pihak Kotamadya, supaya bisa diterima oleh pemerintah pusat. Secara garis besar laporan Karsten (1935:59), bisa dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

–         Lahirnya perencanaan Kota Malang;

–         Hakekat dan dampak perencanaan Kota Malang;

–         Cara penentuan perencanaan dan arti persetujuan pemerintah;

–         Situasi dan pembentukan bagian kota yang Testua;

–         Pertumbuhan kota hingga tahun 1930;

–         Pertumbuhan dan Karakter;

–         Bentuk Utama dan Pusatnya;

–         Kelompok utama dan peruntkannnya;

–         Jaringan jalan utama;

–         Keindahan kota.

Kekuatan utama Kota Malang terletak pada pemandangan gunung- gunung disekitarnya seperti : Gunung Kawi disebelah Barat, Gunung Semeru disebelah Timur, Gunung Arjuna disebelah Barat Daya dan lembah Sungai Brantas yang membelah kota. Semuanya ini menjadi pertimbangan Karsten dalam merencanakan perkembangan Kota Malang. Semua rencana tambahan global untuk kota Malang diselesaikan oleh Kasten pada tahun 1935.

E. Perkembangan Arsitektur 1914-1940.

Secara garis besar perkembangan arsitektur kolonial di Malang tidak berbeda dengan perkembangan arsitektur di Hindia Belanda pada kurun waktu yang sama. Gaya arsitektur yang disebut sebagai ”Indische Empire” yang berkembang sampai akhir abad ke 19, juga terdapat di Malang, terutama sekali pada gedung-gedung pemerintahan seperti gedung Asisten Residen di alon-alon pusat kota Malang. Sayangnya, saat ini asitektur dengan gaya ”Indische Empire” di Malang sekarang boleh dikatakan sudah tidak tersisa sama sekali.

Secara garis besar perkembangan arsitektur kolonial di Malang yang dibangun setelah th. 1914 bisa dibagi menjadi 2 bagian yaitu yang dibangun antara th. 1914-1920 dan yang dibangun sesudah th. 1920 an sampai th. 1940 an. Arsitektur yang dibangun antara th. 1914-1920 an dapat disebutkan misalnya:

–         Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) disebelah Utara alon-alon dibangun th. 1915, arsiteknya adalah Hulswit, Fermont & Cuypers.

–         Palace Hotel (sekarang Hotel Pelangi), dibangun antara th. 1916, disebelah Selatan alon-alon, arsiteknya tidak diketahui dengan jelas.

–         Kantor Pos dan Tilgram (sekarang sudah dibongkar) terletak di Jalan Kayutangan (Basuki Rachmad) dibangun antara th. 1910 arsiteknya BOW (Burgelijke Openbare Werken)

–         dan sebagainya.

Arsitektur kolonial yang dibangun antara th. 1920 sampai 1940 an dapat disebutkan misalnya.:

–         Zusterschool (Jl. Tjelaket- dibangun antara th. 1926 arsiteknya Hulswit, Fermont & Ed.Cuypers)

–         Fraterschool (Jl. Tjelaket, dibangun antara tahun 1926, arsiteknya Hulswit, Fermont & Ed.Cuypers)

–         Komplek pertokoan di perempatan Jl. Kayutangan (dibangun ahun 1936, arsiteknya Karel Bos)

–         Balai Kota Malang (dibangun th. 1927-1929, arsiteknya H.F. Horn)

–         Gedung HBS/AMS di J.P. Coen Plein (alon-alon bunder, dibangun tahun 1931, arsiteknya Ir. W. Lemei)

–         Theresiakerk (gereja Santa Theresia) di depan Boeringplein (taman Buring) dibangun th. 1936, arsiteknya Rijksen en Estourgie.

–         Gedung Maconieke Lodge, di Tjerme plein (taman Cerme), dibangun th. 1935, arsiteknya Ir. W. Mulder.

–         Pertokoan Jl.Kayutangan, dibangun tahun 1935-an arsiteknya tidak jelas.

–         dan sebagainya.

Sebagian besar gedung-gedung kolonial yang ada di Malang dibangun sesudah tahun 1920. Gaya arsitektur kolonial modern setelah th. 1920 an di Hindia Belanda pada waktu itu sering disebut sebagai gaya ”Nieuwe Bouwen”, yang disesuaikan dengan iklim dan teknik bangunan di Hindia Belanda waktu itu.

Sebagian besar menonjol dengan ciri-ciri seperti: atap datar, gevel horisontal, volume bangunan yang berbentuk kubus, serta warna putih (Gedung Monieke Lodge, pertokoan di perempatan Jl. Kayutangan, pertokoan lainnya di sepanjang Jl. Kayutangan dan sebagainya). Jadi sebagian gedung-gedung kolonial yang ada di Malang umurnya rata-rata kurang lebih baru 60 tahun.

* Tulisan ini dirangkum dari karya ilmiah Handinoto ”Perkembangan Kota Malang Pada Jaman Kolonial (1914-1940)” yang terdapat pada Jurnal Ilmiah Dimensi No. 22 Tahun 1996.

Komentar
  1. Romo Wisnu mengatakan:

    Saya butuh data-data yang lebih akurat Mas Ferry..dapatkah ada membantu..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s