Mengingat pentingnya persoalan lingkungan, kedaulatan rakyat dan negara, maka perlu bagi kita untuk mengetahui (meskipun terbatas) apa yang akan menjadi pembicaraan para elit Negara saat pertemuan internasional mengenai perubahan iklim global. Pada bulan Desember 2009, akan berlangsung agenda besar yaitu KTT Perubahan Iklim di Kota Copenhagen, Denmark.

Beberapa data yang dikumpulkan dari berbagai sumber media kiranya dapat menjadi bahan pemikiran bagi kita sebagai warga negara dan warga dunia, minimal dapat menambah informasi (saya berharap lebih dari sekedar rangkuman informasi buat anda).

KTT Perubahan Iklim 2009

Denmark secara resmi mengundang para pemimpin negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa ke konferensi PBB di Kopenhagen, Desember, untuk menandatangani perjanjian global mengenai iklim.

Sekitar 40 pemimpin telah mengindikasikan akan hadir, termasuk PM Inggris Gordon Brown, Presiden Perancis Nicholas Sarkozy Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Swedia Reinfeldt (Ketua Uni Eropa), Presiden RI  Susilo Bambang Yudhoyono, para pemimpin negara Afrika, Karibea dan Amerika Latin (Antara News, 13 November 2009; http://www.erabaru.net 18 Nov’09).

Isu yang Berkembang terkait dengan KTT Perubahan Iklim 2009

  • Presiden Amerika Serikat dan Presiden Brasil gelagatnya akan datang bila ada hasil kongkret yang akan ditandatangani di Kopenhagen (www.erabaru.net 18 Nov’09).
  • Banyak negara dan pihak yang meragukan KTT Perubahan Iklim akan dapat menghasilkan sebuah keputusan sesuai “Bali Road Map” (www.erabaru.net 18 Nov’09).
  • Afrika akan menuntut kompensasi miliaran dolar AS kepada negara-negara kaya pencipta polusi, pada pertemuan mengenai iklim yang disponsori PBB, karena andil besar negara-negara kaya itu atas pemanasan global yang melanda benua itu (Antara news Senin, 12 Oktober 2009)
  • Para pemimpin APEC menyatakan mustahil mencapai kesepakatan soal target penurunan emisi gas rumah kaca sebelum konperensi di Kopenhagen.”Kami dengan tegas menolak segala bentuk proteksionisme dan menegaskan kembali komitmen untuk tetap membuka pasar dan membatasi diri untuk tidak menaikkan penghalang baru di bidang investasi atau perdagangan barang dan jasa.”(Kompas, 16 November 2009)
  • Kanselir Merkel akan berangkat sendiri ke Kopenhagen, Denmark, untuk berusaha mencapai hasil maksimum bersama mitra Eropanya. Namun Merkel tidak memperhitungkan tercapai perjanjian mengikat pengganti Protokol Kyoto (www.dw-world.de, 17 November 2009)
  • Pemerintah Inggris akan mendorong aliran dana yang bisa dihimpun negara-negara maju di dunia untuk negara berkembang yang berupaya mengembangkan energi terbarukan dan ramah lingkungan(www.kompas.com, 19 November 2009)

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia menawarkan empat hal yang ingin tercapai dalam KTT Perubahan Iklim atau COP (Conference of Parties) ke-15 UNCCC di Kopenhagen, Denmark, pada Desember 2009, yaitu : program REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), pembicaraan mengenai isu kelautan pada perubahan iklim khususnya mengenai terumbu karang, berpartisipasi dalam tranfer teknologi untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta mengenai peningkatan kapasitas SDM, teknologi dan semua hal yang berhubungan dengan perubahan iklim (Antara News, 24 November 2009).

Indonesia mengusulkan adanya jalan tengah berupa “umbrella agreement” sebagai hasil KTT Perubahan Iklim ke-15 (www.erabaru.net 18 Nov’09).

Komitmen penurunan emisi sebesar 26 persen pada tahun 2020 yang disampaikan Presiden SBY pada pertemuan G-20 di Pittsburgh, Amerika Serikat, bulan September lalu. Target ini menempatkan Indonesia sebagai satu dari sedikit negara yang berani menetapkan angka pasti. Komitmen pengurangan emisi merupakan salah satu aksi mitigasi perubahan iklim. Bagaimana mencapainya? pemerintah setidaknya akan fokus pada tiga sektor utama, yaitu sektor kehutanan, energi, dan limbah (Antara News, 23 November 2009).

Untuk mengurangi produksi emisi karbon hingga 26 persen pada tahun 2020 bisa dicapai melalui lima langkah, yaitu penghentian deforestasi, pengendalian kebakaran hutan, pengawasan pembakaran lahan gambut, pengolahan daur ulang sampah, dan memaksimalkan penggunaan energi alternatif (http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/25/14425327/witoelar.dan.goris.sepaham.soal.misi.indonesia.ke.copenhagen).

Sementara hanya ini yang dapat saya sampaikan. Kiranya informasi ini dapat “memancing” anda untuk lebih lanjut mendalaminya [fas].

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s