REFLEKSI ATAS PROBLEM GLOBAL

Posted: November 25, 2009 in Lingkungan

National Geographic melaporkan bahwa jumlah penduduk di dunia kini mencapai 6,8 miliar orang. Setiap tahun populasi manusia di dunia mengonsumsi sumber daya yang tersedia di planet ini 1,4 kali lebih banyak dibanding yang mampu diperbarui oleh bumi.

Angka yang fantastis ini masih mungkin akan bertambah. Diprediksi pada pertengahan abad ini (bila sebelum tahun 2012 sampai pertengahan abad ini belum kiamat..he..) jumlah penduduk dunia akan mencapai 9 miliar orang.

National Geographic juga melaporkan data yang menarik disajikan, dari 6,8 miliar orang penduduk dunia, separuhnya mendiami wilayah perkotaan yang luasnya hanya tiga sampai empat persen dari luas daratan dunia. Benua Asia menempatkan diri sebagai benua terpadat dimana enam dari 10 negara berpenduduk terbesar berada di benua ini. Benua Asia menjadi tempat tinggal bagi lebih dari separuh populasi manusia di dunia. Namun tidak semua sudut dunia penuh dipadati penduduk. Populasi di banyak pelosok benua dan wilayah-wilayah dengan kondisi yang tidak ramah seperti  gurun pasir, hutan, dan tundra tetap rendah. Mungkinkah ditempat-tempat ini kita manusia akan mengupayakan untuk mendiaminya?

Melihat angka populasi yang demikian besar, yang berakibat pada tingkat konsumsi yang tinggi. Selanjutnya berdampak pada perubahan lingkungan. Apa yang terjadi pada saat ini, bencana alam dan bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia terhadap lingkungan menunjukkan adanya kesalahan dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan selama ini.

Ada fenomena mengkhawatirkan yang patut dicermati, perubahan lingkungan telah memaksa terjadinya pergerakan manusia untuk menghindari bencana dengan cara mengungsi (diistilah dengan pengungsi lingkungan). National Geographic menggunakan istilah refugees/pengungsi yang lebih tepat digunakan untuk para pelarian konflik bersenjata. Artinya, definisi pengungsi mengalami perluasan makna dengan berubahnya lingkungan. Disini kita melihat adanya kecenderungan manusia untuk memilih menghindari krisis alam ketimbang mengupayakan bagaimana memikirkan strategi beradapatasi dengan lingkungan atau upaya kuat untuk memulihkan kondisi lingkungan di sisa waktu yang disediakan dan mampu diukur oleh kemampuan manusia yang tetap terbatas.

Bagaimana dengan Indonesia? National geographic kembali melaporkan bahwa Indonesia sebagai negara padat penduduk sepertinya akan melahirkan pengungsi lingkungan dalam jumlah amat besar pada tahun-tahun menadatang mengingat tingginya frekuensi bencana. Menghindari bencana dengan mengungsi dilakukan dengan berpindah ke daerah lain dalam satu negara yang dianggap lebih aman dari serangan bencana atau ke negara lain.

Beragam alasan dapat dikemukakan untuk alasan pilihan ketika dihadapkan pada situasi sebagai penduduk di daerah rawan bencana. Namun, saya mengajak kita untuk berpikir idealis sekaligus realis. Kita mesti bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita lakukan selama ini terhadap lingkungan. Bentuk pertanggungjawaban ini sekaligus wujud kecintaan kita terhadap Indonesia yang telah menjadi tanah tumpah darah kita.

Kita perlu memiliki pemahaman yang utuh dan terpadu tentang lingkungan dimana kita berada. Setiap unsur lingkungan yang membentuk sistem ekologi memiliki keterkaitan dan saling ketergantungan. Setiap kerusakan pada satu unsur atau komponen lingkungan, akan berpengaruh terhadap unsur lain yang membentuk sebagai sebuah sistem.  Dengan pemahaman demikian maka kita akan lenbih cermat dan teliti dalam memutuskan suatu tindakan. Kita akan mememiliki pertimbangan -yang utuh dan terpadu- atas segala faktor yang saling terkait dan bergantung. Atau dengan kata lain, kita pun perlu memiliki pemahaman terhadap cara berpikir sistemik. Bahwa dunia ini dan segala unsur yang ada didalamnya berjalan dengan sistem, tidak sendiri-sendiri. Belajar dari kesalahan pengelolaan selama ini yang parsial telah membawa pada kerusakan yang mengancam kehidupan umat manusia.

Belajar dari kesalahan masa lalu untuk membenahi kehidupan kini dan ke depan. [fas]

-jogja utara, aktivitas sesudah aktivitas (bisa) bangun pagi-

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s